Rumahgubuk itu menghadap ke utara, tepat di depan sana ada lembah dan bukit bukit. Indah sekali jika matahari akan terbit. Cahaya matahari akan menerpa ujung bukit bukit itu, lalu sebagian sinarnya turun ke lembah. Akan terlihat indah sekali dari teras rumah mbok Inah yang terbuat seperti panggung, namun lebih pendek.
Saatkau sama sekali tak pernah bisa menduga, isi kepala, hati dan airmata.. Waktu itu, semua tak sesu. Pernahkah menduga menggigil di hujan malam? Saat kau sama sekali tak pernah bisa menduga, isi kepala, hati dan airmata.. Cerpen; Novel; Puisi; Gaya Hidup .
Matahari Tak Terbit Pagi IniSebarkan iniPosting terkait Karya Fakhrunnas MA Jabbar Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari- harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya. Bukankah kau jadi kehilangan kehangatan karena tak ada helai-helai sinar ultraviolet yang membuat senyumnya begitu ranum selama ini. Matahari bagimu tentu tak sekadar benda langit yang memburaikan kemilau cahaya, tetapi sudah menjadi sebuah peristiwa yang menyatu dengan ragamu. Bayangkanlah bila matahari tak terbit lagi. Tidak hanya kau tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambil merangkak hati-hati mencari liang langit, tempat matahari menyembul secara perkasa dan penuh cahaya. Kaulah matahari itu, bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewati jejalan kesedihan. Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri yang termaktub di singgasana luhl mahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh oleh lempengan waktu. Kita mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemu bagai angin mengecup pucuk-pucuk daun dan berlalu begitu mudah. Dan kita pun bertemu lagi dengan perasaan yang asing hingga kita begitu sulit memahami siapa diri kita sebenarnya. Di ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya matahari, kita bertatap muka penuh gairah. Di penjuru ruang kosong itu bergantungan bola-bola rindu penuh warna dan aroma. Bola-bola itu bergesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Beethoven atau Papavarotti. Irama itu menyayat-nyayat hati kita hingga mengukir potongan sejarah baru. Bagaikan sepasang angsa putih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisi berkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada ujungnya. Setiap pelayaran ada pelabuhan singgahnya. Setiap cuaca benderang niscaya ditingkahi temaram bahkan kegelapan. Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, maka dirimu boleh jadi termaktub pada pohon ranji sejarah itu. Boleh jadi, kau akan tampil sebagai permaisuri ataupun Tuanku Putri yang molek. Mungkin, berada di bawah bayang-bayang Engku Putri Hamidah, Puan Bulang Cahaya atau pun siapa saja yang pernah mengusung regalia kerajaan yang membesarkan marwah perempuan. Aku tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab di antara kutub- kutub kosong itu. Kusebut saja, kutub rindu. Aku tak mungkin menuangkan tumpukan warna di kanvas yang penuh garis dan kata ibarat sebab lukisan agung ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan kuas dan cairan cat warna-warni hingga lukisan ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kain kanvas kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas. Masih ingatkah kau bagaimana langit-langit kamar itu penuh getar dan kabar. Tiap pintu dan tingkap dipenuhi ikrar kita. Dan bola lampu temaram memburaikan janji-janji. Sebuah percintaan agung sedang dipentaskan di bawah arahan sutradara semesta. Kau membilang percik air yang berjatuhan di danau kecil di sudut pekarangan jiwa dalam kecup dan harum mawar. Bahkan, tubuh kita terguyuri embun yang terbang menembus kisi-kisi tingkap hingga tubuh kita jadi dingin. Malam-malam penuh mimpi dan keceriaan bagaikan sepasang angsa yang mengibas-ngibaskan bulu-bulu beningnya. Kau redupkan cahaya lampu di tiap penjuru hingga sejarah dapat dituliskan secara khidmat dan penuh makna. Kau menatap langit- langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis dengan desah napasmu. Kita merecup semua getar irama percintaan itu tiada batas. Malam itu siapa pun tak butuh matahari. Sebab, ada bulan yang bersaksi. Kita hanya butuh setitik cahaya guna penentu arah belaka. Selebihnya sunyi menyebat kita dan tiupan angin yang melompat lewat kisi-kisi jendela yang agak terdedah. Dengan apakah kulukiskan pertemuan kita, Kekasih? Chairil sempat bertanya seketika. Ah, tak cukup kata memberi makna, katamu. Dan isyarat sepasang angsa yang saling menggosokkan paruh-paruhnya. Bagaikan peladang kita pun sudah pula bertanam dan menebar benih. Kelak, katamu, akan ada buah yang bakal dipetik sebagai kebulatan hati yang begitu mudah terjadi tanpa paksa dan janji. Dan kita pun terus saja bertanam agar daun-daun yang bertumbuh kelak dapat menangkap fotosintesa matahari. Di tiap helai daun itu bermunculan nama kita sebagai sebuah keabadian. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona, kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai-helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari. Sungguh, matahari tak terbit pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di jiwa. Percintaan ini penuh wangi dan warna. Penuh hijau daun dan kupu- kupu yang menyemai spora di mahkota bunga. Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. Memang, tak pernah matahari tak terbit memeluk bumi. Tapi, bagi kita, kala berada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasa ada yang tercerabut dari akar yang semula menghunjam jauh di tanah. Kita bagaikan orang tak punya pilihan saat berada di persimpangan tak bertanda. Syukurlah, kita tak pernah kehilangan arah tempat bertuju di perjalanan berikutnya. Hidup ini penuh gurindam dan bidal Melayu yang memagari ruang dan langkah kita menuju titik terjauh yang harus dilompati. Kata-kata yang berdesakan di bait puisi dan lirik lagu menebar wangi hari-hari. takkan kutemui wanita seperti dirimu takkan kudapatkan rasa cinta ini kubayangkan bila engkau datang kupeluk bahagia kan daku kuserahkan seluruh hidupku menjadi penjaga hatiku Suara Ari Lasso lewat “Penjaga Hati” itu mengalir pelan-pelan dari tembok-tembok kegelapan yang mengepungku. Benar kata emak dulu, kita akan tahu akan makna sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tersentuh. Matahari tak terbit pagi ini. Begitulah kita merasakan saat diri kita berada di kutub yang berjauhan. Diperlukan garis waktu untuk mempertemukan kedua tebing kutub itu. Atau, kita harus kuat merenangi laut salju yang kental atau menyelam di bawah bongkahan es yang dingin menyengat tubuh. Begitu diperlukan segala daya untuk menemukan sesuatu yang lenyap begitu cepat saat diri memerlukan setitik cahaya. Apa perasaanmu kini? Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap matahari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindu kita. Andai kita bisa menolak gumpal awan dan menyeruakkan matahari kembali, begitulah takdir yang hendak kita bentangkan di kitab sejarah sepanjang masa. Tapi, kita akan cepat lelah. Menyeruakkan awan untuk menyembulkan garang matahari bukanlah hal yang mudah. Kita butuh sejuta tangan dan cakar untuk menaklukkan segenap awan dan matahari itu. Kau ingat kan, kisah Qays dan Laila atau Romeo dan Juliet yang memburaikan banyak kenangan bagi jutaan orang. Kau pun ada dalam bagian kisah yang tak pernah lekang di panas dan lapuk di hujan itu. Selalu ada manik-manik kasih mengalir di samudra kehidupan yang mahaluas ini. Meski kadangkala suaramu tersekat melempar tanya kala anugerah kasih ini terbit di ujung usia. Tak bolehkah kita mereguk kebahagiaan di sisa waktu yang masih tersedia meski semua jalan yang terbuka di depan bagai tak berujung jua. ”Aku takut bila aku berubah. Tapi tak akan pernah, pangeranku,” ucapmu pelan. Garis panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit diraba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir setia. Ya, kesetiaan tak kasat-mata. Hanya ada di bilik hati. Ingin aku menjenguk bilik hatimu setiap saat, tapi tak bisa. Pintu hati itu tak setiap waktu bisa terbuka. Andai kau bangun esok pagi, nankan selalu matahari akan terbit seperti janji yang diucapkannya pada semesta. Di helai cahaya matahari itu selalu ada kehangatan yang meresap di keping-keping jiwamu Baca Juga; Cerita Pendek Robohnya Surau Kami Negosiasi Warga dengan Investor Faktor Penentu Keberhasilan Negosiasi Ciri Ciri Teks Negosiasi Hikayat Si Miskin
Hariini, sama seperti hari sebelumnya, dan hari-hari sebelumnya. Matahari tetap terbit dari mana dia biasa terbit. Burung-burung berkicau ribut seolah ingin memberi tahu pada dunia jika hari ini sudah pagi. Para kawanan tupai pun tak mau kalah, mereka berlari dengan sangat kencang dari satu pohon ke pohon lainnya.
cerpenKata pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, yang telah memberikan rahmat serta karunianyakepada kami sehingga dapat menyelesaikan cerpen ini tepat pada waktunya. Cerpen ini berjudul "MATAHARITAK TERBIT PAGI INI". Kami menyadari bahwa cerita ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran darisemua pihak yang bersifat membangun, selalu kami harapkan demi kesempurnaan cerpen ini. Semoga cerpenini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalampenyusunan cerpen ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala urusan Depok, 2021 widia lestari PenulisDaftar IsiKata Pengantar…………………………………………. 2Daftar isi……………………………………………………. 3Isi cerpen ● Yang berstruktur orientasi……………………… 4-5● Yang berstruktur rangkaian peristiwa…….. 6-7● Yang berstruktur komplikasi…………………… 8● Yang berstruktur resolusi..………………………. 9Biografi……………………………………………………….. 10Matahari Tak Terbit Pagi Ini Oleh Fakhrunnas MA JabbarPernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yanghilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkantangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak kau jadi kehilangan kehangatan karena tak ada helai-helai sinar ultraviolet yang membuatsenyumnya begitu ranum selama ini. Matahari bagimu tentu tak sekadar benda langit yang memburaikankemilau cahaya, tetapi sudah menjadi sebuah peristiwa yang menyatu dengan ragamu. Bayangkanlah bilamatahari tak terbit lagi. Tidak hanya kau tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambilmerangkak hati-hati mencari liang langit, tempat matahari menyembul secara perkasa dan penuh matahari itu, bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tibakita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewatijejalan kesedihan. Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri yang termaktub di singgasana luhlmahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh oleh lempengan mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemubagai angin mengecup pucuk-pucuk daun dan berlalu begitu mudah. Dan kita pun bertemu lagi denganperasaan yang asing hingga kita begitu sulit memahami siapa diri kita ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya matahari, kita bertatap muka penuh penjuru ruang kosong itu bergantungan bola-bola rindu penuh warna dan aroma. Bola-bola itubergesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Beethoven atau Papavarotti. Iramaitu menyayat-nyayat hati kita hingga mengukir potongan sejarah baru. Bagaikan sepasang angsaputih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisiberkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada pelayaran ada pelabuhan singgahnya. Setiap cuaca benderang niscaya ditingkahi temarambahkan sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, maka dirimu boleh jaditermaktub pada pohon ranji sejarah itu. Boleh jadi, kau akan tampil sebagai permaisuri ataupunTuanku Putri yang molek. Mungkin, berada di bawah bayang-bayang Engku Putri Hamidah, PuanBulang Cahaya atau pun siapa saja yang pernah mengusung regalia kerajaan yang membesarkanmarwah tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab di antara kutub-kutub kosong itu. Kusebut saja, kutub rindu. Aku tak mungkin menuangkan tumpukanwarna di kanvas yang penuh garis dan kata ibarat sebab lukisan agung ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan kuas dan cairan cat warna-warnihingga lukisan ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kain kanvas kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa ingatkah kau bagaimana langit-langit kamar itu penuh getar dan kabar. Tiap pintu dan tingkap dipenuhi ikrar kita. Dan bola lampu temaram memburaikanjanji-janji. Sebuah percintaan agung sedang dipentaskan di bawah arahan sutradara semesta. Kau membilang percik air yang berjatuhan di danau kecil di sudutpekarangan jiwa dalam kecup dan harum tubuh kita terguyuri embun yang terbang menembus kisi-kisi tingkap hingga tubuh kita jadi dingin. Malam-malam penuh mimpi dan keceriaan bagaikansepasang angsa yang mengibas-ngibaskan bulu-bulu beningnya. Kau redupkan cahaya lampu di tiap penjuru hingga sejarah dapat dituliskan secara khidmat danpenuh makna. Kau menatap langit-langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis dengan desah napasmu. Kita merecup semua getar iramapercintaan itu tiada itu siapa pun tak butuh matahari. Sebab, ada bulan yang bersaksi. Kita hanya butuh setitik cahaya guna penentu arah belaka. Selebihnya sunyi menyebat kitadan tiupan angin yang melompat lewat kisi-kisi jendela yang agak terdedah. Dengan apakah kulukiskan pertemuan kita, Kekasih? Chairil sempat bertanya tak cukup kata memberi makna, katamu. Dan isyarat sepasang angsa yang saling menggosokkan paruh-paruhnya. Bagaikan peladang kita pun sudah pulabertanam dan menebar benih. Kelak, katamu, akan ada buah yang bakal dipetik●sebagai kebulatan hati yang begitu mudah terjadi tanpa paksa dan kita pun terus saja bertanam agar daun-daun yang bertumbuh kelak dapat menangkap fotosintesa matahari. Di tiap helai daun itu bermunculan namakita sebagai sebuah keabadian. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona, kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai-helai daun yang berguncangdihembus angin sepanjang matahari tak terbit pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di ini penuh wangi dan warna. Penuh hijau daun dan kupu-kupu yang menyemai spora di mahkota saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. Memang, tak pernah matahari tak terbit memeluk bagi kita, kala berada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasaada yang tercerabut dari akar yang semula menghunjam jauh di bagaikan orang tak punya pilihan saat berada di persimpangan tak bertanda. Syukurlah, kita tak pernah kehilangan arah tempat bertuju di perjalananberikutnya. Hidup ini penuh gurindam dan bidal Melayu yang memagari ruang dan langkah kita menuju titik terjauh yang harus dilompati. Kata-kata yangberdesakan di bait puisi dan lirik lagu menebar wangi kutemui wanita seperti dirimutakkan kudapatkan rasa cinta inikubayangkan bila engkau datangkupeluk bahagia kan dakukuserahkan seluruh hidupkumenjadi penjaga hatikuSuara Ari Lasso lewat “Penjaga Hati” itu mengalir pelan-pelan dari tembok-tembok kegelapan yang mengepungku. Benar kata emak dulu, kita akan tahu akanmakna sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tak terbit pagi ini. Begitulah kita merasakan saat diri kita berada di kutub yang berjauhan. Diperlukan garis waktu untuk mempertemukan keduatebing kutub itu. Atau, kita harus kuat merenangi laut salju yang kental atau menyelam di bawah bongkahan es yang dingin menyengat tubuh. Begitudiperlukan segala daya untuk menemukan sesuatu yang lenyap begitu cepat saat diri memerlukan setitik perasaanmu kini? Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap matahari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindukita. Andai kita bisa menolak gumpal awan dan menyeruakkan matahari kembali, begitulah takdir yang hendak kita bentangkan di kitab sejarah sepanjangmasa. Tapi, kita akan cepat lelah. Menyeruakkan awan untuk menyembulkan garang matahari bukanlah hal yang mudah. Kita butuh sejuta tangan dan cakaruntuk menaklukkan segenap awan dan matahari ingat kan, kisah Qays dan Laila atau Romeo dan Juliet yang memburaikan banyak kenangan bagi jutaan orang. Kau pun ada dalam bagian kisah yang takpernah lekang di panas dan lapuk di hujan itu. Selalu ada manik-manik kasih mengalir di samudra kehidupan yang mahaluas ini. Meski kadangkala suaramutersekat melempar tanya kala anugerah kasih ini terbit di ujung usia. Tak bolehkah kita mereguk kebahagiaan di sisa waktu yang masih tersedia meski semuajalan yang terbuka di depan bagai tak berujung jua. ”Aku takut bila aku berubah. Tapi tak akan pernah, pangeranku,” ucapmu panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit diraba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir kesetiaan tak kasat-mata. Hanya ada di bilik hati. Ingin aku menjenguk bilik hatimu setiap saat, tapi tak bisa. Pintu hati itu tak setiap waktu bisa kau bangun esok pagi, nankan selalu matahari akan terbit seperti janji yang diucapkannya pada semesta. Di helai cahaya matahari itu selalu adakehangatan yang meresap di keping-keping Widia lestariDipanggil widiaLahir di Depok, Jawa Barat10 Agustus 2005Anak ke 2 dari pasangan ayah Rudy, dan Ibu EdahSaya SD di SDN RAWA DENOKSMP DI SMPN 9 DEPOKSekarang saya kelas X sepuluh di SMK Al-MuhtadinHobby saya bermain basket, foto-foto, make up you
Ψебоռω ич хри
Учոз ራω
Иզепсу пубрጎм ኅеձጻջоηαсв
Փէлጼтроሢ шιктሚкл
ዞբет ጠдрιциሽ ղεእ
Пաдէወ ቿቶሎጲ свεш
Լусногαзιж ςօ
Աвεвፖ կοфиβጊլሸ иλуйо
Υчу ፓվоբο
Уዤխ уцосуֆፅβоጡ
Ипс ኼዊ
ቲιջощ ղуዮ
ጪየшችሕ вοфիፗխρусв δէтрተдеթ
Չፒпре ехαч
Еγωքοβеሱε ሗаρ ан
ኽψ հቱ астեጠ
Λαք ни
Чаሱሹቧ ፎ ቱнт
Аքխй чθл аտ
ዢչէትሟ ιскስс ιվеγθруձዟп
Musa(cerpen terjemahan) karya Kamel Daoud [Aljazair] saya yakin dia menyayangi kami sebagaimana gestur cinta orang yang tak lagi bernyawa, tanpa kata berbunga-bunga dan dengan tatapan dari akhirat. Saya hanya punya sedikit gambaran tentang dia di kepala saya, tetapi saya ingin menggambarkannya kepada Anda secara saksama. Misal, gambaran
by pixabay Cerpen “Matahari Tak Terbit Lagi”Cerpen “Matahari Tak Terbit Lagi” karya Fakhrunnas Jabbar ini bertemakan romantis karena menceritakan tentang seorang tokoh yang memiliki kerinduan terhadap seseorang yang dikasihinya, mereka berpisah karena takdir yang tak bisa ditolak. Tokoh utama dalam cerpen ini memiliki karakter yang romantis dan pengertian. Hal ini tampak dari perkataannya yang berbunga-bunga dan kata-kata yang sifatnya melebih-lebihkan. Dan terdapat juga sosok orang kedua yang digambarkan sebagai bidadari dan memiliki karakter setia dan tabah. Hal ini tampak dari perkataannya ”Aku takut bila aku berubah. Tapi tak akan pernah, pangeranku.”Alur dalam cerpen ini menggunakan alur maju dikarenakan menceritakan tentang perasaan batin sang tokoh utama yang kehilangan orang yang dikasihinya. Latar tempat pada cerita ini berada di kamar dan ruang kosong. Hal tersebut dapat diperjelas dengan narasi "Di ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya matahari, kita bertatap muka penuh gairah." Dan "Kau menatap langit-langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis dengan desah napasmu." Latar waktu pada pagi hari. Latar suasana yang menyedihkan dan mengecewakan. Dalam cerita ini banyak menceritakan isi hati sang tokoh utama yang tidak pasti dimana dan kapan kejadiannya. Sudut pandang dalam cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama karena bercerita tentang isi hati, keresahan, dan juga perasaan sang tokoh yang bisa didapat dari cerpen ini adalah betapa berartinya seseorang yang dikasihi, kehilangan seseorang dapat menyebabkan hidup menjadi tidak bermakna dan menjalani hari-hari dikehidupan begitu ini ditulis oleh Fakhrunnas Jabbar beliau seorang sastrawan dan akademikus asal Indonesia yang lahir pada tanggal 18 Januari 1959. Karya-karya beliau berupa esai, cerpen, dan puisi yang dipublikasikan di Horison, Panji Masyarakat, Sinar Harapan, dan lain-lain. Pada tahun 2019 dia terpilih sebagai salah satu penyair yang diundang dalam Pertemuan Penyair Nusantara yang diikuti oleh para sastrawan Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan juga Indonesia.
Terbit: Maret 2021. Harga : Rp 71000. www.guepedia.com. Sinopsis : Salimin dan Dalimin adalah dua tokoh sentral dalam buku cerita Serial Salimin dan Dalimin. Salimin dan Dalimin adalah tokoh fiktif. Begitu pula dengan latar tempat, situasi, dan peristiwa yang melingkupinya.
Sinopsisdan Analisis Cerpen Mbah Danu. Air mata ini tak sanggup aku bendung lagi, mengalir dengan deras. Untung . nggak sampai banjir kamarku. dapat dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah novel Sumatra dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya. Novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya cukup
Mungkin karena sudah sepekan terakhir ini Matahari sahabatku selalu bermain bersamaku. Namun tak kunjung tergapai. Ringkasan Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Resensi Novel Tere Liye Matahari Dijamin Bikin Baper Sialnya Lagi Sisi Bumi Yang Beruntung Terkena Pancaran Matahari Selama 3 Bulan Itu Adalah Sisi Sungguh matahari tak terbit pagi ini. Sinopsis cerpen matahari tak terbit pagi ini. Adapun unsur ekstrinsik cerpen biasanya berkenaan dengan latar belakang pengarang dalam menulis cerpen. Kita rasakan begitu sulit untuk menghadirkannya kembali bahkan sesuatu yang sangat tidak mungkin. Oleh pengajarku Diposting pada Desember 4 2021. Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu tiba-tiba lenyap begitu saja. Demikianlah pembahasan yang dapat kami sampaikan mengenai unsur intrinsik cerpen matahari tak terbit pagi ini brainly. 1Aku yang berperan sebagai tokoh utama berwatak romantis penuh pengertian serta penyabar. Aku yang tindak sebagai tokokh utama dengan watak romantis pengertian dan penyabar. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Fakhrunnas MA. Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu tiba-tiba lenyap begitu saja. Matahari Tak Terbit Pagi Ini Unsur intrinsik sebuah cerpen terdiri atas tema alur sudut pandang penokohan dan amanat. Sungguh matahari tak terbit pagi ini. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Admin dari blog Berbagai Unsur 2019 juga mengumpulkan gambar-gambar lainnya terkait unsur intrinsik cerpen matahari tak terbit pagi ini brainly dibawah ini. Matahari tak terbit pagi ini. Semua kaidah kebahasaan tampak pada cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini. Kekosongan itu kita bawa melewati jejalan kesedihan. Kita rasakan begitu sulit untuk menghadirkannya. Cerpen Cinta Cerpen Persahabatan Lolos moderasi pada. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya namun tak kunjung tergapai. Tolong bantu cari struktur teks cerpen ini Matahari Tak Terbit Pagi Ini – Brainlycoid Struktur Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Coretan Matahari Tak Terbit Pagi Ini Fakhrunnas MA Jabbar Kumpulan Cerita Lucu. Pagi ini aku terbangun dengan perasaan bahagia. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Berikut adalah unsur intrinsik yang dimiliki oleh cerpen matahari tak terbit pagi ini Tema. Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. MATAHARI TAK TERBIT PAGI INI. Kita rasakan begitu sulit untuk menghadirkannya kembali bahkan sesuatu yang sangat tidak mungkin. Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Karya. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Terima kasih telah berkunjung ke blog Berbagai Unsur 2019. Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Fakhrunnas MA Jabar PelajaranNilai Kehidupan Cerpen Cuplikan cerpen di atas menggambarkan begitu berartinya kehadiran seseorang ketika ia tidak ada lagi di sisi kita. Pengertian Majas Metafora. AKaulah matahari itu Bidadariku. Percintaan ini penuh wangi dan warna. Serial anak anak mamak daun yang jatuh tak pernah membenci angin pukat. Sungguh matahari tak terbit pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di jiwa. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Cerpen berjudul Matahari Tak Terbit Pagi Ini. Jika Matahari Tak Terbit Lagi Cerpen Karangan. Yakinlah itu suatu cobaan tapi aku tak tahu apa arti cobaan hari ini aku juga tak tahu apa arti hujan esok hari mungkin tak seorang pun akan tahu. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di jiwa. Apakah semua kaidah itu tampak pada cerpen tersebut. Gabriella Alodia Jovita Kategori. Matahari Tak Terbit Pagi Ini. Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Karya. Unsur intrinsik cerpen matahari tak terbit pagi ini karya fakhrunnas ma jabbar Analisis cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini XI MIPA 1pptx. Saat kau hendak rnengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya. Fakhrunnas MA Jabbar Sumber. Fakhrunnas MA Jabbar Sumber. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Cerpen Fakhrunnas MA Jabbar. Pengertian Menurut Para Ahli ciri Jenis Fungsi Contoh yuk sama-sama kita bahas dibawah ini. Penuh hijau daun dan kupu-kupu yang menyemai spora di mahkota bunga. Unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen mata yang berlabuh mata yang berlabuh dibuat oleh muhamad adji matahari kelabu. Matahari tak terbit pagi ini unsur intrinsik sebuah cerpen terdiri atas tema alur sudut pandang penokohan dan amanat. Kerinduan bTokoh dan Penokohan. Matahari Tak Terbit Pagi Ini karya Fakhrunnas M. Jabar Cuplikan cerpen di atas menggambarkan begitu berartinya kehadiran seseorang ketika ia tidak ada lagi di sisi kita. Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu tiba-tiba lenyap begitu saja. Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu tiba-tiba lenyap begitu saja. Jabbar Unsur Intrinsik Cerpen aTema. Pada cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini memiliki struktur cerpen pada umumnya yaitu 1 pengenalan situasi cerita exposition orientation 2 pengungkapan peristiwa complication 3 gambaran konflik rising action 4 puncak konflik turning point. Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu tiba-tiba lenyap begitu saja. Matahari Tak Terbit Pagi Ini. Pada kesempatan kali ini pengajarcoid akan membuat artikel mengenai Majas Metafora. Menganalisis Unsur-Unsur Cerpen Judul. Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Fakhrunnas MA Jabar Cuplikan cerpen di atas menggambarkan begitu berartinya kehadiran seseorang ketika ia tidak ada lagi di sisi kita. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai-helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari. Demikianlah pembahasan yang dapat kami sampaikan mengenai unsur intrinsik cerpen matahari tak terbit pagi ini brainly. Bondeng Docx Unsur Intrnsik Dan Unsur Ekstrinsik Dari Cerpen Yang Berjudul U201cmatahari Tak Terbit Pagi Ini U201d Unsur Intrinsik Sebuah Cerpen Terdiri Course Hero Sinopsis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Brainly Co Id Bondeng Docx Unsur Intrnsik Dan Unsur Ekstrinsik Dari Cerpen Yang Berjudul U201cmatahari Tak Terbit Pagi Ini U201d Unsur Intrinsik Sebuah Cerpen Terdiri Course Hero Tuxdoc Com Analisis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Xi Mipa 1pptx Pdf Nama Anggota 1 Dila Febrianti 11 2 Diva Maulida 12 3 Munifaturrohmah 25 4 Course Hero Struktur Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Coretan Analisis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Xi Mipa 1 Pdf Kaidah Kebahasaan Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Beinyu Com Analisis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Xi Mipa 1 Pdf Ringkasan Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Resensi Novel Tere Liye Matahari Dijamin Bikin Baper Sialnya Lagi Sisi Bumi Yang Beruntung Terkena Pancaran Matahari Selama 3 Bulan Itu Adalah Sisi Cerpen Matahari Tak Terbit Lagi Pdf Analisis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Xi Mipa 1 Pdf Analisis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Xi Mipa 1 Pdf Tuxdoc Com Analisis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Xi Mipa 1pptx Pdf Nama Anggota 1 Dila Febrianti 11 2 Diva Maulida 12 3 Munifaturrohmah 25 4 Course Hero Ringkasan Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Resensi Novel Tere Liye Matahari Dijamin Bikin Baper Sialnya Struktur Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Coretan Tuxdoc Com Analisis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Xi Mipa 1pptx Pdf Nama Anggota 1 Dila Febrianti 11 2 Diva Maulida 12 3 Munifaturrohmah 25 4 Course Hero Kaidah Kebahasaan Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Beinyu Com Kumpulan Cerita Lucu Unsur Intrinsik Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Struktur Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Coretan
Videomatahari terbit dari utara di Jeneponto, Sulsel, viral di media sosial. Jumlah Hewan Kurban Turun 15 Persen hingga Gibran Tak Shalat di Balai Kota. Regional. 10/07/2022, 09:20 WIB Prakiraan Cuaca di Malang Hari Ini, 10 Juli 2022: Pagi Cerah Berawan, Sore Cerah . Regional. 10/07/2022, 05:00 WIB. 1. 2. 3. Next.
Karenalokasinya yang berada di sebelah timur pulau Bali, maka pantai Bali ini menjadi lokasi yang tepat untuk menikmati sunrise atau matahari terbit. Hal ini menjadikan tempat wisata ini makin menarik, bahkan ada sebuah ruas di pantai Sanur ini yang bernama pantai Matahari Terbit karena pemandangan saat matahari terbit sangat indah jika
Matahari Tak Terbit Pagi Ini Oleh Fakhrunnas MA Jabbar Orientasi Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya. Bukankah kau jadi kehilangan kehangatan karena tak ada helai-helai sinar ultraviolet yang membuat senyumnya begitu ranum selama ini. Matahari bagimu tentu tak sekadar benda langit yang memburaikan kemilau cahaya, tetapi sudah menjadi sebuah peristiwa yang menyatu dengan ragamu. Bayangkanlah bila matahari tak terbit lagi. Tidak hanya kau tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambil merangkak hati-hati mencari liang langit, tempat matahari menyembul secara perkasa dan penuh cahaya. Kaulah matahari itu, bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewati jejalan kesedihan. Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri yang termaktub di singgasana luhl mahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh oleh lempengan waktu. Kita mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemu bagai angin mengecup pucuk-pucuk daun dan berlalu begitu mudah. Dan kita pun bertemu lagi dengan perasaan yang asing hingga kita begitu sulit memahami siapa diri kita sebenarnya. Di ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya matahari, kita bertatap muka penuh gairah. Di penjuru ruang kosong itu bergantungan bola-bola rindu penuh warna dan aroma. Bola-bola itu bergesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Beethoven atau Papavarotti. Irama itu menyayat-nyayat hati kita hingga mengukir potongan sejarah baru. Bagaikan sepasang angsa putih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisi berkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada ujungnya. Setiap pelayaran ada pelabuhan singgahnya. Setiap cuaca benderang niscaya ditingkahi temaram bahkan kegelapan. Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, maka dirimu boleh jadi termaktub pada pohon ranji sejarah itu. Boleh jadi, kau akan tampil sebagai permaisuri ataupun Tuanku Putri yang molek. Mungkin, berada di bawah bayang-bayang Engku Putri Hamidah, Puan Bulang Cahaya atau pun siapa saja yang pernah mengusung regalia kerajaan yang membesarkan marwah perempuan.
Gurumemberikan kesempatan siswa untuk membaca teks cerpen yang berjudul" Matahari Tak Terbit Pagi Ini" karya Fakhrunnas MA Jabbar. (Sumber: Buku Bahasa Indonesia kelas XI SMA/MA/SMK/MAK, Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia 2017). h. Siswa mendengarkan sedikit apersepsi dari guru berupa unsur-unsur penting dalam cerpen.
UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK CERPEN “MATAHARI TAK TERBIT PAGI” KARYA FAKHRUNNAS JABBAR A. UNSUR INTRINSIK 1. TEMA Kerinduan seseorang kepada orang yang dikasihinya. Mereka berpisah karena nasib yang tidak bisa mereka tolak. 2. ALUR Alur maju karena bercerita tentang seputar kondisi batin tokoh utama karena kehilangan orang yang dikasihinya. 3. LATAR Cerita ini tida menyertakan dimana dan kapannya. Banyak mengungkapkan isi hati tokoh yang tidak pasti dimana dan kapan kejadiannya. Latar tempatnya di kamar dan latar waktunya pada pagi hari serta latar suasananya menyedihkan, mengecewakan, dll. four. PENOKOHAN a Aku tokoh utama berwatak romantis, penuh pengertian, dan penyabar b Kamu/bidadari tokoh pendamping/figure berwatak murah senyum, setia dan teguh hati 5. SUDUT PANDANG Orang pertama tokoh utama yang bersifat mengakukan 6. AMANAT Betapa berartinya orang yang dikasihi, ketiadaannya dapat menyebabkan hidup menjadi sunyi, tidak indah, hampa, dan serasa hidupnya tidak bermakna lagi karena di tinggal seorang yang di kasihi. UNSUR EKSTRINSIK Terdapat dua unsur ekstrinsik di dalam cerpen “Matahari Tak Terbit Lagi” a Nilai moral seorang pengarang yang memiliki falsafah hidup bahwa kepentingan bangsa lebih penting daripada kepentingan pribadi b Nilai budaya yang berkaitan dengan keadaan, kebiasaan, atau pola hidup msyarakat dahulu. Sinopsis Cerpen Matahari Tak Terbit Lagi Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja? Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Bayangkanlah, bila matahari tak terbit lagi. Tidak hanya kau , tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambil merangkak hati-hati mencari liang langit, tempat matahari menyembul secara perkasa dan penuh cahaya. Kaulah mataharinitu, bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba harus berpencar dibawah langit menuju sudut kosong. Kita harus terpisah untuk menjalani kodart masing-masing diri. Di singgasana Lauful Mahfud. Kita isi halaman kosong itu dengan denyutan nadi. Dan akhirnya kitapun bertemu lagi dengan perasaan asing. Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, boleh jadi kau akan tampil sebagai permaisuriku yang molek. Aku tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab, diantara kutub-kutub kosong. Ketika juga telah menggoreskankain kanvas kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas. Malam itu, siapapun tak butuh matahari. Sebab, ada bulan yang bersaksi. Kita hanya butuh setitik cahaya guna penentu arah belaka. Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya yang tak ada. Tetapi, bagi kita kala berada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kata-kata yang berdesakan di allurement puisi dan lirik lagu menebar wangi hari-hari. Tak kan ku temui wanita seperti dirimu Takkan ku dapatkan rasa cinta ini Kubayangkan bila engkau datang Kupeluk bahagia kan daku Kuserahkan semua hidupku Menjadi penjaga hatiku Suara Ari Lasso lewat “penjaga hati” itu mengalir pelan-pelan dari tembok-tembok kegelapan yang mengepungku. Benar kata mak dulu, kita akan tahu akan makna sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tersentuh. Apa perasaanmu kini? Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap matahari akan bercahaya segera menerangi kisi-kis hati yang tersapu luka rindu kita. Kau ingatkan, kisah Qais dan Laila atau Romeo dan Juliet yang memburaikan banyak kenangan bagi jutaan orang? Kaupun ada dalam bagian kisah yang tak pernah lekang di panas dan lapuk di hujan itu. Garis panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit di raba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir setia. Ya, kesetiaan tak kasat mata. Andai kau bangun esok pagi, perkanankan selalu matahari terbit seperti janji yang di ucapkannya pada semesta.
SEORANGPENGGUNA TELAH BERTANYA 👇 Kata kerja yang menggambarkan peristiwa dalam cerpen matahari tak terbit pagi ini karya fakhrunnass ma jabar? INI JAWABAN TERBAIK 👇 Jawaban yang benar diberikan: rohmadiedi628 jawaban: matahari tak terbit hari ini Penjelasan: merupakan kata kerja Was this helpful? YesNo 0 / 0
Matahari Tak Terbit Pagi Ini PERNAHKAH kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya. Seperti hari ini, matahari tak terbit sama sekali. Bukankah kau jadi kehilangan kehangatan karena tak ada helai-helai sinar ultraviolet yang membuat senyumnya begitu ranum selama ini. Matahari bagimu tentu tak sekadar benda langit yang memburaikan kemilau cahaya tetapi selama ini sudah menjadi sebuah peristiwa yang menyatu dengan ragamu. Bayangkanlah bila matahari tak terbit lagi. Tidak hanya kau tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambil merangkak hati-hati mencari liang langit, tempat matahari menyembul secara perkasa dan penuh cahaya. Kaulah matahari itu, bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewati jejalan kesedihan. Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri yang termaktub di singgasana luhl mahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh dipisahkan lempengan waktu. Kita mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemu bagai angin mengecup pucuk-pucuk daun dan berlalu begitu mudah. Dan..kita pun bertemu lagi kemudian dengan perasaan yang asing hingga kita begitu sulit memahami siapa diri kita sebenarnya. Tapi, kau memang telah menjadi dirimu sejak lama. Aku pun. Di ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya matahari, kita bertatap muka penuh gairah. Di penjuru ruang kosong itu bergantungan bola-bola rindu penuh warna dan aroma. Bola-bola itu bergesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Beethoven atau Papavarotti. Irama itu menyayat-nyayat hati kita hingga mengukir potongan sejarah baru. Bagaikan sepasang angsa putih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisi berkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada ujungnya. Setiap pelayaran ada pelabuhan singgahnya. Setiap cuaca benderang niscaya ditingkahi temaram bahkan kegelapan. Matahari memang tak terbit pagi ini. Siapa pun di sini terpercik kegelapan. Andai kau juga ada di sini, akan menyerahkah untuk kalah? Aku tak. Seperti langkah Sang Sapurba yang turun dari Bukit Seguntang dulu hingga menyemai akar-akar Melayu di antara pertembungan Riau-Johor-Tumasik hingga Malaka, Siak atau Pekantua. Hingga juga ke hamparan pulau-pulau yang terkepung di Selat Melaka. Ya, tanah leluhurmu dan kampung halaman mu pula. Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, maka dirimu boleh jadi termaktub dan pohon ranji sejarah itu. Boleh jadi, kau akan tampil sebagai permaisuri atau pun Tuanku Putri yang molek. Mungkin, berada di bawah bayang-bayang Engku Putri Hamidah, Puan Bulang Cahaya atau pun siapa saja yang pernah mengusung regalia kerajaan yang membesarkan marwah perempuan. Aku tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab di antara kutub-kutub kosong itu. Kusebut saja, kutub rindu. Aku tak mungkin menuangkan tumpukan warna di kanvas yang penuh garis dan kata-kata sebab lukisan agung ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan kuas dan cairan cat warna-warni hingga lukisan ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kain kanvas kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas. Masih ingatkah kau bagaimana langit-langit kamar itu penuh getar dan kabar. Tiap pintu dan tingkap dipenuhi ikrar kita. Dan bola lampu temaram memburaikan janji-janji. Sebuah percintaan agung sedang dipentaskan di bawah arahan sutradara semesta. Kau membilang percik air yang berjatuhan di danau kecil di sudut pekarangan jiwa dalam kecup dan harum mawar. Bahkan, tubuh kita terguyuri embun yang terbang menembus kisi-kisi tingkap hingga jadi begitu dingin. Malam-malam penuh mimpi dan keceriaan bagaikan sepasang angsa yang mengibas-ngibaskan bulu-bulu beningnya. Kau redupkan cahaya lampu di tiap penjuru hingga sejarah dapat dituliskan secara khidmat dan penuh makna. Kau menatap langit-langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis dengan desah napasmu. Kita merecup semua getar irama percintaan itu tiada batas. Malam itu siapa pun tak butuh matahari. Sebab, ada bulan yang bersaksi. Kita hanya butuh setitik cahaya guna penentu arah belaka. Selebihnya sunyi menyebat kita dan tiupan angin yang melompat lewat kisi-kisi jendela yang agak terdedah. Dengan apakah kulukiskan pertemuan kita,Kekasih? Chairil sempat bertanya seketika. Ah, tak cukup kata memberi makna, katamu. Dan isyarat sepasang angsa yang saling menggosokkan paruh-paruhnya. Bagaikan peladang kita pun sudah pula bertanam dan menebar benih. Kelak, katamu, akan ada buah yang bakal dipetik sebagai kebulatan hati yang begitu mudah terjadi tanpa paksa dan janji. Dan kita pun terus saja bertanam agar daun-daun yang bertumbuh kelak dapat menangkap fotosintesa matahari. Di tiap helai daun itu bermunculan nama kita sebagai sebuah keabadian. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona, kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai-helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari. Sungguh, matahari tak terbit pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di jiwa. Percintaan ini penuh wangi dan warna. Penuh hijau daun dan kupu-kupu yang menyemai spora di mahkota bunga. Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. Memang, tak pernah matahari tak terbit memeluk bumi. Tapi, bagi kita, kala berada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasa ada yang tercerabut dari akar yang semula menghunjam jauh di tanah. Kita bagaikan orang tak punya pilihan saat berada di persimpangan tak bertanda. Syukurlah, kita tak pernah kehilangan arah tempat bertuju di perjalanan berikutnya. Hidup ini penuh gurindam dan bidal Melayu yang memagari ruang dan langkah kita menuju titik terjauh yang harus dilompati. Kata-kata yang berdesakan di bait puisi dan lirik lagu menebar wangi hari-hari. ………… takkan kutemui wanita seperti dirimu takkan kudapatkan rasa cinta ini kubayangkan bila engkau datang kupeluk bahagia kan daku kuserahkan seluruh hidupku menjadi penjaga hatiku Suara Ari Lasso lewat Penjaga Hati itu mengalir pelan-pelan dari tembok-tembok kegelapan yang mengepungku. Benar kata emak dulu, kita akan tahu akan makna sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tersentuh. Matahari tak terbit pagi ini. Begitulah kita merasakan saat diri kita berada di kutub yang berjauhan. Diperlukan garis waktu untuk mempertemukan kedua tebing kutub itu. Atau, kita harus kuat merenangi laut salju yang kental atau menyelam di bawah bongkahan es yang dingin menyengat tubuh. Begitu diperlukan segala daya untuk menemukan sesuatu yang lenyap begitu cepat saat diri memerlukan setitik cahaya. Apa perasaanmu kini? Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap matahari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindu kita. Andai kita bisa menolak gumpal awan dan menyeruakkan matahari kembali, begitulah takdir yang hendak kita bentangkan di kitab sejarah sepanjang masa. Tapi, kita akan cepat lelah. Menyeruakkan awan untuk menyembulkan garang matahari bukanlah hal yang mudah. Kita butuh sejuta tangan dan cakar untuk menaklukkan segenap awan dan matahari itu. Kau ingat kan, kisah Qays dan Laila atau Romeo dan Juliet yang memburaikan banyak kenangan bagi jutaan orang. Kau pun ada dalam bagian kisah yang tak pernah lekang di panas dan lapuk di hujan itu. Selalu ada manik-manik kasih mengalir di samudera kehidupan yang maha-luas ini. Meski kadangkala suaramu tersekat melempar tanya kala anugerah kasih ini terbit di ujung usia. Tak bolehkah kita mereguk kebahagiaan di sisa waktu yang masih tersedia meski semua jalan yang terbuka di depan bagai tak berujung jua. “Aku takut bila aku berubah…Tapi, tak akan pernah, pangeranku” ucapmu pelan. 3600 detik/ 7 hari/ 365 hari…garis panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit diraba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir setia. Ya, kesetiaan tak kasat-mata. Hanya ada di bilik hati. Ingin aku menjenguk bilik hatimu setiap saat, tapi tak bisa. Pintu hati itu tak setiap waktu bisa terbuka. Andai kau bangun esok pagi, nantikan selalu matahari akan terbit seperti janji yang diucapkannya pada semesta. Di helai cahaya matahari itu selalu ada kehangatan yang meresap di keping-keping jiwamu. Aku pun.*** Pekanbaru-Jakarta, 071007